Mencetak Kader Wirausaha, Mungkinkah?

December 14, 2011 in Articles

Mukhammad Kholid Mawardi [1]

 Pendahuluan

Thesis yang dikemukan Samuel P. Huntington tentang perang peradaban (clash of civilization) nampakya menjadi kenyataan. Pasca runtuhnya negara Uni Sovyet sebagai simbol kekuatan komunisme global, perdaban barat nampaknya berhadapan vis a vis  dengan kekuatan Islam dalam persaingan peradaban global. Ketidakadilan global yang disebabkan standard ganda kekuatan barat, menyulut suburnya gerakan radikal di beberapa negara yang dihuni mayotritas umat Islam. Sehingga muncul stereotype Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan terhadap umat non –islam. Skenarion global untuk memojokkan peradaban islam diperkuat dengan kondisi internal umat islam yang syarat dengan ketidakberdayaan ekonomi, yang diyakini sebagai salah satu  penyulut gerakan radikal umat islam (Hussain, 2006).Terlepas dari adanya sebagaian pihak yang tidak sependapat dengan pendapat tersebut, namun penulis meyakini bahwa meski tidak sepenuhnya berpengaruh, faktor kemiskinan umat islam khususnys di Indonesia nampaknya berkontribusi terhadap radikalisme gerakan umat islam.

Berdasarkan Indeks pembangunan manusia (Human Development Index) 2011, The United Nation Development Program menempatkan Indonesia pada tingkat 124 dari 187 negara yang disurvey (The Jakarta Pos, 11/02/2011). Fakta ini menunjukan bahwa Indonesia sebagai populasi muslim terbesar di dunia, memiliki tingkat harapan hidup, pendidikan, kemampuan baca tulis (literacy), dan standar hidup berada jauh dibawah negara-negara lain, atau dengan kata lain Indonesia belum bisa dikatan sebagai negara kaya (baca tidak mampu). Fakta ini di dukung data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik  yang mengungkapkan bahwa pada tahun 2010 tingkat kemiskinan di Indonesia sebesar 13,33% atau terdapat 31.02 juta penduduk dengan pendapatan dibawah  Rp 211.726,- per kapita per bulan. 

Dari data tersebut diatas, muncul pertanyaan apakah yang bisa kita lakukan? Kalau kita selama ini mengkalim diri sebagai kader umat, sudah sejauh mana aksi yang kita lakukan untuk mencari solusi permasalah diatas. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai bagaian dari umat berkewajiban untuk berperan dalam deradikalisasi  gerakan umat islam. Salah satu agenda besar yang sudah seharusnya dilakukan HMI  adalah dengan terlibat secara aktif dalam program-program pengentasan kemiskinan. Perdebatan wacana keislaman dan wacana demokratisasi yang selama ini menjadi “makanan”sehari-hari kader  nampaknya belum banyak membeikan kontribusi riil bagi umat. Kemiskinan merupakan permasalah umat yang berada didepan mata yang harus dicarikan solusinya.  Program pengentasan kemiskinan dapat diwujudkan salah satunya dengan mendorong tumbuh berkembangnya jiwa kewirausahaan dikalangan mahasiswa dan mendiksukan isu tersebut sangat relevan dengan eksistensi HMI sebagai organisasi yang memiliki sistem pengkaderan yang mapan. Dalam tulisan ini, penulis ingin mendiksukan isu tentang peluang dan hambatan mewujudkan kader-kader wirausaha dalam sistem pengkaderan HMI sebagai jawaban terhadap permasalah umat kekinian.  

 Peran Perguruan Tinggi dalam Penciptaan Wirausahawan

HMI sebagai organisasi mahasiswa, memiliki nafas pergerakan yang tidak terlepas dari aktivitas di dalam kampus. Sehingga mendiskukan peran perguran tinggi akan relevan dengan aksi-aksi yang dilakukan HMI, termasuk didalamnya ketika mendiskusikan peran perguruan tinggi dalam penciptaan wirausaha. Perguruan tinggi dianggap merupkan bagain dari instrumen kebijakan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan pekerjaan melaui peningkatan jiwa kewirausahaan dikalangan mahasiswa (Davey et al., 2011). Peguruan tinggi merupakan wahana dimana mahasiswa  melakukan intelectual exercise  untuk mempersiapkan masa depan yang akan diraih paca pendidikan. Dalam kontek pengembangan sikap kewirausahaan dikalangan mahasiswa,  Hong et al (2009) mengungkapkan bahwa pengalaman yang diperolah selama studi dan kualitas individu mahasiswa berpengaruh terhadap sikap kewirausahaan mahasiswa dan sikap kewirausahaan inilah yang pada akhirnya membentuk niat kewirausahaan. Hal ini dapat dikmanai bahwa mahasiswa yang memanfaatkan waktu studinya di kampus untuk mencari pengalaman baik pengalaman hidup secara umum maupun pengalaman kewirausahaan dan memacu diri untuk meningkatkan kualitas diri akan memiliki sikap kewirausahaan yang lebih baik dibanding mahasiswa yang “utun” (mahasiswa yang hanya mengejar prestasi akademis an sich).  Sikap kewirausahaan inilah  yang akan memunculkan keinginan kuat dalam diri mahasiswa untuk menjadi wirausaha dan melakukan self employment.

Pendapat tersebut juga di dukung oleh Davey et al  (2011)  yang mengungkapkan bahwa banyak perguruan tinggi yang berhasil melakukan pendidikan kewirausahaan bagi mahasiswa dengan meningkatkan ketrampilan berwirausaha dan juga kemampuan untuk mempersiapkan menjadi wirausaha. Menariknya, mereka juga menungkapkan fakta bahwa terdapat korelasi negatif antara tingkat pendatan nasional suatu negara (Gross National Product) dengan keinginan berwirausaha dikalangan mahasiswa. Argumen ini dapat dijelaskan bahwa mahasiswa yang berasal dari negara berkembang yang memiliki kondisi perekonomian relatif lebih rendah dengan negara maju, akan memiliki keyakinan dan sikap yang lebih siap untuk menghadapi ketidakpastian masa depan, misalanya dalam mencari lapangan pekerjaan.  Sehingga bagi mereka yang perfikir positif dan menjadi kampus  sebagai wadah mencari pengalaman dan peningkatan kualitas diri (Hong et al., 2009) akan memiliki persepsi bahwa menjadi wirausaha adalah pilahan yang terbaik bagi dirinya sekaligus positif bagi negaranya.  Menjadi wirausaha akan menjadikan dirinya yang mampu memperkerjakan dirinya sendiri (self emplyoment)  sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain (emplotyment creation).

Isu selanjutnya yang releven dalam mendiksukan peran perguruan tinggi dalam pengembangan kewirausahaan adalah bagaimana Perguruan tinggi mendesain program pengembangan kewirausahaanya. Liñán et al. (2011) dalam gambar 1 menggambarkan peran lembaga pendidikan dalam proses penciptaan kewirausaan. Pengembangan jiwa kewirausahaan di dalam perguruan tinggi  hendaknya mampu melibatkan lingkungan di luar kampus, antra lain dunia. Dunia usaha akan mampu mendorong pengembangan pengetahuan tertentu dengan sektor bisnis, mengembangkan jaringan bisnis maupun menjadi model rujuakan pengembangan bisnis. Disisi lain pengembangan kewirausahaan hendaknya mampu mengembangkan kreativitas dan ketrampilan untuk melihat peluang, sekaligus merangsang minat mahasiswa untuk memulai wirausaha. Salah satu materi penting yang perlu diajarkan dalam  pengembangan wirausaha adalah perencanaan bisnis yang mampu merubah peluang bisnis menjadi usaha riil dalam bentuk pendirian usaha baru. Model ini juga menekankan bahwa pengembangan wirausaha tidak hanya berhenti pada proses pendirian usaha tetapi juga meliputi bagaimana mendorong usaha yang terbentuk menjadi usaha yang dinamis.  

 Pengkaderan Wirausaha di HMI, Sebuah Pendekatan Sistemik

Setelah mendiskusikan peran perguruan tinggi dalam pengembangan jiwa kerwirausahaan di kalangan mahasiswa, pada bagian ini penulis mencoba untuk mensinergikan proses pengkaderan HMI dengan misi untuk mengembangan jiwa kewirausahaan dikalangan kader HMI. Sinergi tersebut dapat dilihat dari perspektif sistem yang melihat fenomena pengkaderan wirausaha dalam HMI sebagai sebuah proses yang melibatkan, input, proses, output dan impact dari fenomena tersebut. Dimana semua komponen tersebut sangat terkait satu sama lainnya.

Input dalam sistem pengkaderan wirausaha HMI terdiri dari peserta (trainee), pelatih (trainer), struktur dan dana.  Peserta yang mengkuti proses pengkaderan adalah anggota HMI, terutama anggota HMI yang masih memiliki masa studi yang panjang sehingga mereka masih memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan meningkatkan kualitas diri. Komponen input selanjutnya adalah para pelatih dengan kualifikasi pengetahuan dan skill dalam kewirausahaan. Pelatih bisa diambil dengan latar belakang akademis, praktisi maupun kader HMI yang memiliki kualifikasi tersebut. Komponen input yang tidak kalah pentingnya adalah struktur kelembagagaan, jawaban terhadap pelaksana program pengkaderan harus sudah tuntas. Apakah lembaga harus otonom dari struktur HMI atau berada menjadi salah satu organ dalam HMI? dan yang lebih penting  dalam pelaksanaan program pengkaderan kewirausahaan adalah kejelasan visi, misi dan tujuan dari organisasi pelaksana. Terkait dengan komponen input ini adalah, dana pendukung program, baik untuk pembiayaan pelaksanaan program maupun investasi yang dibutuhkan untuk mendorong berdirinya usaha bisnisis sebagai tahap akhir program. Profesionalisme dan transparansi pengelolaan dana pengkaderan wirausaha HMI hendaknya menjadi isu penting yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program ini karena isu diharapkan menjadi faktor pendorong sekaligius penghambat keberhasilan suatu program

  Disamping itu terdapat berbagai sumber pendanaan bagi wirausaha baru yang bergerak disetor UMKM menyaratkan praktek good governance dalam pengelolaan pendanaan proyek Proses merupakan komponen selanjutnya dalam sistem pengkaderan wirausaha HMI. Proses pengkaderan HMi bisa dilihat dari bagaimana pelatihan dilakukan (metode), materi yang disampikan (kurikulum) dan kedalaman training yang dilakukan (tingkat pelatihan). Karena kewirausahaan bukan hanya menuntut kedalaman pengetahuan tepi juga penguasaan ketrampilan terkait dengan kemampuan  mengambil peluang usaha dan menjalankan usaha maka metode yang relavan dalam pengkaderan HMI adalah metode yang melibatkan keterlibatan aktif peserta training, baik pada aspek afeksi, kognisi maupun psikomotoris. Dalam artian pelatihan yang dilakukan tidak hanya di lakukan di dalam kelas, tetapi juga di luar ruangan yang menghadapkan peserta dengan realitas di lapangan. Kurikulum pelatihan dapat diadopsi dari pelatihan-pelatihan kewirausahaan yang dilakukan lembaga perguruan tinggi maupun organisasi profesi lainnya. Untuk menyusun kurikulum pelatihan kewirausahaan perlu dilakukan workshop pengkaderan kewirausahaan HMI dengan melibatkan berbagai stakeholders. Sedangkan tingkatan pelatihan perlu dibedakan sesuai dengan output yang dituju karena tidak mungkin dalam satu tahap pelatihan peserta pelatihan langsung mampu menjadi wirausaha. Terkait dengan hal tersebut, pelatihan kewirausahaan perlu  di desain berjenjang berdasarkan kedalaman materi dan target yang ingin dicapai.  

Apabila ketersediaan input dan proses sistem pengkaderan wirausaha HMI berjalan dengan baik maka pengkaderan akan menghasilkan dua tingkat output,  yaitu wirausaha pada tingkat individu kader HMI dan unit bisnis strategis (strategic unit business) pada level organisasi. Individu-individu kader HMI diharapkan tidak hanya menjadi insan akademis tetapi juga mampu menjadi insan pencipta, dalam artian menciptakan lapangan pekerjaan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Sedangkan pada level organisasi, baik pada level terendah yaitu komisariat HMI maupun tingkatan tertinggi Pengurus Besar (PB) HMI akan terbentuk organisasi yang mampu menghasilkan keuntungan.

Terkait dengan output yang dihasilkan maka sistem pengkaderan wirauaha HMI akan memberikan dampak (impact) kemandirian HMI, baik pada tingkat individu yang ditandai dengan kemampuan membiayai kulish secara mandiri, maupun secara organisational berupa dukungan dana bagi  struktur organisasi HMI. Konsekwensinya ketergantungan finansial HMI terhadap alumni HMI akan dapat dikurangi bahkan di hilangkan. Lebih jauh lagi, pengkaderan wirausaha HMI akan mampu mengurangi tingkat pengangguran karena alumni pengkaderan wirausaha akan menghasilkan mahasiswa pemberi kerja (job provider) bukan mahasiswa pencari kerja (job seeker).  Secara jangka panjang, kehadiran mahasiswa dengan kemampuan tersebut akan mampu mengurangi tingkat kemiskinandi Indonesia dan pada akhirnya akan mencegah umat Islam untuk terlibat dari gerakan radikal.

 Peluang dan Tantangan

Pembahasan diatas merupakan sebuah konsep diatas kertas yang memerlukan refleksi dan gerak aksi dari pengambil kebijakan di dalam struktur HMI. Tetapi pada akhir tulisan ini penulis ingin menganalisis peluang dan tantangan pengkaderan wirausaha dalam HMI. Jumlah mahasiswa Indonesia yang sekitar 4,8 juta mahasiswa (Kompas.com,26/03/2011) merupakan sebuah kekuatan ekonomi potensial. Apabila 1% dari jumlah tersebut (sekitar 48.000 mahasiswa) berhasil menjadi wirausaha  dan mampu merekrut tenaga kerja paling tidak 5 orang (sebagai kriteria usaha mikro) maka akan terjadi penciptaan palangan pekerjaan bagi 240.000 penangguran. Dalam konteks HMI, tersedianya organisasi kekaryaan pada setiap level organisasi membuktikan bahwa visi kewirausahaan sesungguhnya telah terdapat di dalam tubuh HMI sehingga meningkatkan jiwa kewirausahaan HMI bukanlah hal yang berat. Revitalisasi kewirausahaan HMI seharunya menjadi kampanye kader HMI dalam berkontribusi terhadap kepentingan umat. Peluang terakhir adalah jaringan alumni HMI yang telah berhasil menjadi wirausaha tentunya akan menjadi kekuatan tersendiri bagi pengkaderan wirausaha HMI melaui dukungan dana, pengalaman, maupun pengetahuan.

Tetapi sebaliknya masih banyak tantangan yang perlu di hadapi dalam merealisasikan pengkaderan wirausaha HMI, antara lain mindset yang berkembang di kalangan kader bahwa keberhasilan kader atau alumni diukur dari keberhasilannya dalam mencapai jabatan struktur kekuasaan, baik pada level organisasi mahasiswa maupun organisasi politik di luar kampus. Tangantan selanjutnya adalah rendahnya profesionalisme di kalangan kader di dalam mengelola organisasi. Terbentuknya organisasi bisnis strategis disamping struktur HMI dapat mempengaruhi kinerja organisasi apabila tidak dikelola secara profesional. Keterbatasan waktu untuk beraktivitas di dalam HMI juga merupakan kendala tersendiri dalam pengembangan kewirausahaan. Disamping mengelola unit bisnis dan aktif di dalam organisasi HMI, kader HMI juga memiliki kewajiban utama sebagai mahasiwa sehingga keterbatasan waktu juga berotensi menjadi hambatan dalam pengembangan kewirausaha. Terlepas dari peluang dan hambatan yang ada dalam pengkaderan wirausaha HMI, namun pada akhirnya dapat ditarik benang merah bahwa mencetak kader wirausaha dalam HMI adalah sebuah tujuan yang “mungkin” terwujud.

  Daftar Pustaka

DAVEY, T., PLEWA, C. & STRUWIG, M. (2011) Entrepreneurship perceptions and career intentions of international students. Education and Training, 53.

HONG, G., YU, M., XUAN, B. & ZHENG, Z. (2009) A Study of the Impact of Enterprise Education on Entrepreneurial Intention of College Student. Soft Science, 9, 69-74.

HUSSAIN, M. A. (2006) Reasons behind Islamic Terrorism: Illiteracy, Poverty and Deprivation? <http://www.islam-watch.org/M.Hussain/Reasons-Causes-Islamic-Terrorism-Illiteracy-Poverty-Deprivation.htm>

LIÑÁN, F., RODRÍGUEZ-COHARD, J. C. & RUEDA-CANTUCHE, J. M. (2011) Factors affecting entrepreneurial intention levels: a role for education. International  Entrepreneurship  Management  Journal, 7, 195-218.

 The Jakarta Pos, 11 Februari 2011,” Indonesia ranks 124th in 2011 Human Development Index”

Kompas.com , 26 Maret 2011 , “Mahasiswa di Indonesia Cuma 4,8 Juta”

 

————————————————————————-

 Tentang Penulis

 

Penulis dilahirkan pada 20 Desember 1975 di Malang, Jawa Timur, adalah alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang memiliki pengalaman baik di organisasi intra maupun ekstra kampus. Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya adalah amanah terakhir yang diemban di organisai intra kampus sebelum memutuskan untuk berkonsentrasi pada pengkaderan HMI. Pengalaman pengkaderan dimulai dari ketua P3A HMI Koms. Ilmu Administrasi, Wasekum P3A Korkom Unibraw dan Biro Diklat Lembaga Pengelola

Latihan (LPL) HMI Cabang Malang. Amanah terakhir yang diemban penulis adalah Ketua HMI Komisariat Ilmu Administrasi Unibraw. Kecintaanya pada dinamika kampus mendorong penulis untuk berprofesi sebagai tenaga akademis di almamaternya. Penulis sekarang sedang menempuh studi program doktor (PhD) di Sydney Business School, University of Wollongong, Australia dengan kekhususan pada kajian manajemen stratejik dan kewirausahaan.   

 

 

 


[1] Alumni HMI Komisariat Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>